BAB l
PENDAHULUAN
1.1
Latar
belakang
Masalah kependudukan dan kerusakan
lingkungan hidup merupakan dua permasalahan yang kini sedang dihadapi berbagai
negara. Brown (1992:265-280), menyatakan bahwa masalah lingkungan hidup dan
kependudukan adalah masalah pencemaran lingkungan fisik, deforestasi,
eksploitasi yang berlebihan terhadap sumber-sumber alam, serta berbagai
fenomena degradasi ekologis semakin hari semakin menujukkan peningkatan yang
signifikan.
Padatnya penduduk suatu daerah akan
menyebabkan ruang gerak suatu daerah semakin sempit, dimana manusia hidup
dengan mengekploitasi lingkungannya secara berlebihan. Pertumbuhan penduduk
yang cepat meningkatkan permintaan terhadap sumber daya alam, baik sumber daya
alam terbarukan atau non-terbarukan. Pada saat yang sama konsumsi juga
meningkat dengan pesat, yang disebabkan oleh semakin besarnya jumlah penduduk
yang pada akhirnya akan berpengaruh pada semakin berkurangnya produktivitas
sumber daya alam.
Perkembangan penduduk sedikit banyak akan
mempengaruhi lingkungan hidup baik fisik maupun non fisik. Dari kenyataan
sejarah menurut Derek Lewlyn dan Jones (2009), sebenarnya krisis
lingkungan hidup yang terjadi pada masyarakat modern saat ini yang
merupakan dampak dari peledakan penduduk dan kemajuan teknologi modern, sudah
dimulai ratusan tahun lalu. Diawali dengan semakin berkembangnya teknologi dan
ilmu pengetahuan, sehingga angka kelahiran bayi dan kesehatan meningkat
mengakibatkan pertambahan dan ledakan penduduk. Bertambahnya penduduk searah
dengan pertambahan kebutuhan makanan, lahan, dan lain lain yang berdampak pada
eksploitasi dan pemanfaatan sumber daya alam secara besar besaran.
Pertumbuhan penduduk mempengaruhi jumlah
penduduk yang terdapat di suatu negara. Bahkan, terdapat negara dengan jumlah
populasi penduduk melebihi satu milyar penduduk, yakni Tiongkok dan India.
Peringkat selanjutnya negara dengan penduduk terbesar adalah Amerika Serikat,
Indonesia, dan Brazil. Besarnya angka penduduk yang berbanding lurus dengan
peningkatan kebutuhan sumber daya alam, berakibat pada menurunnya kualitas
lingkungan, seperti peningkatan emisi karbondioksida dan menurunnya lahan
hutan. Pertumbuhan penduduk dan pengaruhnya terhadap lingkungan menjadi topik
yang menarik untuk diteliti atau dikaji lebih lanjut.
1.2 Rumusan masalah
1.
Bagaimanakah dampak pertumbuhan penduduk terhadap kualitas lingkungan?
2.
Bagaimanakah kondisi pertumbuhan penduduk, pertumbuhan ekonomi, dan
keadaan lingkungan di tiga negara berpenduduk terbesar di dunia?
1.3
Tujuan
1.
Mengetahui dampak pertumbuhan penduduk terhadap kualitas lingkungan.
2.
Mengetahui kondisi pertumbuhan penduduk, pertumbuhan ekonomi, dan
keadaan lingkungan di tiga negara berpenduduk terbesar di dunia.
BAB ll
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pertumbuhan
Penduduk
Pertumbuhan
penduduk adalah perubahan jumlah penduduk baik pertambahan maupun penurunannya.
Pertumbuhan penduduk di suatu wilayah dipengaruhi oleh besarnya kelahiran (Birth),
kematian (Death), migrasi masuk (In Migration), dan
migrasi keluar (Out Migration). Penduduk akan bertambah
jumlahnya apabila terdapat bayi yang lahir dan penduduk yang datang, dan
penduduk akan berkurang jumlahnya apabila terdapat penduduk yang mati dan
penduduk yang keluar wilayah tersebut.
1. Kelahiran
(Natalitas)
Kelahiran bersifat menambah
jumlah penduduk. Ada beberapa faktor yang mendukung kelahiran (pro natalitas)
antara lain:
a. Menikah pada
usia muda, karena ada anggapan bila terlambat menikah keluarga akan malu.
b. Anak dianggap
sebagai sumber tenaga keluarga untuk membantu orang tua.
c. Anggapan
bahwa banyak anak banyak rejeki.
d. Anak menjadi
kebanggaan bagi orang tua.
e. Anggapan bahwa
penerus keturunan adalah anak laki-laki, sehingga bila belum ada anak
laki-laki, orang akan ingin mempunyai anak lagi.
Faktor-faktor penghambat
kelahiran (anti natalitas), antara lain:
a. Adanya
program keluarga berencana yang mengupayakan pembatasan jumlah anak.
b. Adanya
ketentuan batas usia menikah, untuk wanita minimal berusia 16 tahun dan bagi
laki-laki minimal berusia 19 tahun.
c. Anggapan anak
menjadi beban keluarga dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
d. Adanya
pembatasan tunjangan anak untuk pegawai negeri yaitu tunjangan anak diberikan
hanya sampai anak ke 2.
e. Penundaaan menikah
sampai selesai pendidikan akan memperoleh pekerjaan.
2. Kematian
(Mortalitas)
Kematian bersifat
mengurangi jumlah penduduk dan untuk menghitung besarnya angka kematian caranya
hampir sama dengan perhitungan angka kelahiran. Banyaknya kematian sangat
dipengaruhi oleh faktor pendukung kematian (pro mortalitas) dan faktor
penghambat kematian (anti mortalitas).
Faktor pendukung kematian
(pro mortalitas):
a. Sarana
kesehatan yang kurang memadai.
b. Rendahnya
kesadaran masyarakat terhadap kesehatan
c. Terjadinya
berbagai bencana alam
d. Terjadinya
peperangan
e. Terjadinya
kecelakaan lalu lintas dan industri
f. Tindakan
bunuh diri dan pembunuhan.
Faktor penghambat kematian
(anti mortalitas):
a. Lingkungan
hidup sehat.
b. Fasilitas
kesehatan tersedia dengan lengkap.
c. Ajaran
agama melarang bunuh diri dan membunuh orang lain.
d. Tingkat
kesehatan masyarakat tinggi.
e. Semakin
tinggi tingkat pendidikan penduduk.
Faktor utama kelahiran dan
kematian adalah adanya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama kemajuan
di bidang kesehatan. Dengan kemajuan teknologi kesehatan kelahiran dapat diatur
dan kematian dapat dicegah. Ini semua mengakibatkan menurunnya angka kematian
secara drastis atau mencolok.
Menurut
statistik demografi dalam jangka waktu sekitar seperempat abad mendatang jumlah
penduduk kota di negara-negara yang sedang berkembang akan bertambah kira-kir
1,3 triliun jiwa, atau kurang lebih dua kali tipat iumlah penduduk pada tahun
1975. Jumlah penduduk kota pada tahun 1975 merupakan 28 persen dari total penduduk.
]umlah ini akan meningkat menjadi lebih dari 42 persen pada tahun 2000, yang
berarti bahwa kurang lebih dua pertiga dari jumlah pertambahan penduduk berada
di wilayah-wilayah perkotaan. Hal ini menciptakan pertambahan yang dramatis
pula dalam unit perumahan fisik dan penyempurnaan permukiman (Rahardjo
Adisasmita:2005).
2.2 Kualitas
Lingkungan
Secara sederhana kualitas lingkungan
hidup diartikan sebagai keadaan lingkungan yang dapat memberikan daya dukung
optimal bagi kelangsungan hidup manusia pada suatu wilayah. Kualitas lingkungan
dicirikan antara lain dari suasana yang membuat orang merasa betah atau kerasan
tinggal di tempatnya sendiri. Berbagai keperluan hidup terpenuhi dari kebutuhan
dasar atau primer, meliputi makan, minum, perumahan, sampai kebutuhan rohani
atau spiritual meliputi pendidikan, rasa aman, dan sarana ibadah. Kualitas
lingkungan hidup dapat dibedakan berdasarkan karakteristik biofisik,
sosial-ekonomi, dan budaya.

a.
Lingkungan Biofisik
Lingkungan
biofisik adalah lingkungan yang terdiri atas komponen biotik dan abiotik yang
berhubungan dan saling memengaruhi satu dengan lainnya. Komponen biotik
merupakan makhluk hidup, seperti hewan, tumbuhan, dan manusia. Adapun komponen
abiotik terdiri atas benda- benda mati, seperti tanah, air, udara, dan cahaya
matahari. Kualitas lingkungan biofisik disebut baik jika interaksi antarkomponen
berlangsung dengan seimbang.
b.
Lingkungan Sosial-Ekonomi
Standar
kualitas lingkungan sosial-ekonomi disebut baik jika kehidupan manusia akan
kebutuhan sandang, pangan, papan, pendidikan, dan kebutuhan hidup lainnya dapat
terpenuhi.
c.
Lingkungan Budaya
Lingkungan
budaya dapat berupa bangunan, peralatan, pakaian, senjata, dan juga termasuk
nonmateri, seperti tata nilai, norma, adat istiadat, kesenian, dan sistem
politik. Standar kualitas lingkungan budaya dikatakan baik jika di lingkungan
tersebut dapat memberikan rasa aman dan sejahtera bagi semua anggota
masyarakatnya dalam menjalankan dan mengembangkan sistem budayanya.
Hal lain yang tidak kalah penting untuk diketahui di
dalam memahami kualitas lingkungan adalah daya dukung lingkungan (carrying capacity). Daya dukung lingkungan adalah
ukuran kemampuan suatu lingkungan mendukung sejumlah kumpulan atau populasi
jenis makhluk hidup tertentu untuk dapat hidup dalam suatu lingkungan tertentu.
Misalnya, lahan pertanian sawah, perkebunan, hutan, rawa, sungai, danau,
pantai, desa, kota, permukiman, dan kawasan industri. Adapun sejumlah individu
atau kelompok tertentu dapat berupa tumbuh-tumbuhan, binatang, ataupun manusia.
Daya dukung lingkungan sangat
berkaitan erat dengan kepadatan (densitas) suatu
populasi atau jumlah makhluk hidup yang terdapat dalam suatu lingkungan
tertentu. Dengan mengetahui daya dukung atau kemampuan lingkungan dalam
mendukung populasi di atasnya, dapat dihitung kemampuan tertinggi (maksimal)
lingkungan tersebut. Tingkat kepadatan dapat dikelompokkan menjadi tiga macam,
yaitu sebagai berikut.
a.
Tingkat kepadatan maksimum (tertinggi).
b.
Tingkat kepadatan optimum (cukup/sedang/wajar).
c.
Tingkat kepadatan berlebih (kelebihan populasi).
Kepadatan
populasi mencapai tingkat berlebih jika kepadatannya melebihi kepadatan yang
mampu didukung. Dapat dikatakan juga bahwa lingkungan telah sampai kepada
batasnya sehingga pada saat yang bersamaan akan terjadi masalah lingkungan atau
ketimpangan ekologi.
2.3 Undang- Undang Kependudukan
dan Lingkungan Hidup
2.3.1
Undang Undang No. 52 Tahun
2009
1.
Pasal 1 ayat 2
Kependudukan
adalah hal ihwal yang berkaitandengan jumlah, struktur, pertumbuhan,
persebaran, mobilitas, penyebaran,
kualitas, dan kondisi kesejahteraan
yang menyangkut politik, ekonomi, sosial budaya, agama serta lingkungan penduduk
setempat.
2.
Pasal 1 ayat 12
Pembangunan
berkelanjutan adalah pembangunan terencana di segala bidang
untuk menciptakan perbandingan
ideal antara perkembangan kependudukan
dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan serta memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa harus mengurangi
kemampuan dan kebutuhan generasi mendatang,
sehingga menunjang kehidupan bangsa.
3.
Pasal 4 ayat 1
Perkembangan
kependudukan bertujuan untuk mewujudkan keserasian, keselarasan, dan keseimbangan antara kuantitas, kualitas, dan
persebaran penduduk dengan lingkungan hidup.
BAB lll
PEMBAHASAN
3.1 Dampak Pertumbuhan
Penduduk terhadap Kualitas Lingkungan
Pertumbuhan penduduk dapat
menimbulkan dampak yang sangat luas, apalagi jika pertumbuhan penduduk
yang terjadi cenderung berdampak negatif. Hal ini disebabkan karena pertumbuhan
penduduk yang terjadi tidak di imbangi oleh sarana dan prasarana yang
memadai, banyak sekali dampak negatif yang dapat ditimbulkan.
Penduduk berpengaruh penting
dalam menyumbang kerusakan lingkungan, karena dengan pertambahan penduduk yang
tinggi/pesat maka kebutuhan pun akan meningkat baik kebutuhan jasmani maupun
rohani. Kebutuhan jasmani yang tinggi maka tidak terlepas dari apa yang namanya
pemenuhan kebutuhan primer seperti pangan, sandang dan papan. Dengan adanya
pangan yang meningkat maka meningkat pula sampah seperti kemasan, sisa makanan,
dll. Peningkatan akan sandang (pakaian, baju, tren mode terbaru) yang meningkat
maka akan mendorong pabrik untuk memproduksi secara besar yang
menimbulkan pencemaran, seperti limbah gas atau limbah cair akibat proses
produksi dan dari sisi papan (kebutuhan akan lahan tempat tinggal), pertumbuhan
penduduk yang meningkat akan terjadi perluasan lahan untuk perumahan
yang akan mengurangi keanekaragaman hayati dan
mengurangi luas hutan atau area terbuka hijau.
Dilihat dari perspektif
ekologis pertumbuhan penduduk yang cepat dapat berdampak kepada meningkatnya
kepadatan penduduk, sehingga menyebabkan ketidakseimbangan mutu lingkungan
secara menyeluruh. Menurut Soemarwoto (1991:230-250) bahwa secara rinci dampak
kepadatan penduduk sebagai akibat laju pertumbuhan penduduk yang cepat terhadap
kelestarian lingkungan adalah sebagai berikut:
4.
Meningkatnya limbah rumah
tangga sering disebut dengan limbah domestik. Dengan naiknya kepadatan penduduk
berarti jumlah orang persatuan luas bertambah. Karena itu jumlah produksi
limbah persatuan luas juga bertambah. Dapat juga dikatakan di daerah dengan
kepadatan penduduk yang tinggi, terjadi konsentrasi produksi limbah.
5.
Pertumbuhan penduduk yang
terjadi bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi dan teknologi yang melahirkan
industri dan sistem transport modern. Industri dan transport menghasilkan
limbah industri dan limbah transport. Di daerah industri juga terdapat
kepadatan penduduk yang tinggi dan transport yang ramai. Di daerah ini terdapat
produksi limbah domestik, limbah industri dan limbah transport.
6.
Pertumbuhan penduduk juga
mengakibatkan peningkatan kebutuhan pangan. Untuk masyarakat pedesaan yang
menggantungkan hidupnya pada lahan pertanian, maka seiring dengan pertambahan
penduduk, kebutuhan akan lahan pertanian juga akan meningkat, sehingga eksploitasi
hutan untuk membuka lahan pertanian baru banyak dilakukan. Akibatnya daya
dukung lingkungan menjadi menurun. Bagi mereka para peladang berpindah, dengan
meningkatnya pertumbuhan penduduk yang sedemikian cepat, berarti menyebabkan
tekanan penduduk terhadap lahan juga meningkat. Akibatnya proses pemulihan
lahan mengalami percepatan.
7.
Semakin besar jumlah
penduduk, semakin besar kebutuhan akan sumber daya. Bagi penduduk agraris,
meningkatnya kebutuhan sumber daya yang utama adalah kebutuhan lahan dan air.
Dengan berkembangnya teknologi dan ekonomi, kebutuhan akan sumber daya lain
juga meningkat, yaitu bahan bakar dan bahan mentah untuk industri. Dengan semakin
meningkatnya kebutuhan sumber daya, terjadilah penyusutan sumber daya.
Penyusutan sumber daya berkaitan erat dengan pencemaran. Makin besar laju
penyusutan maka semakin besar dan pada umumnya semakin besar pula
pencemaran.
Kerusakan Lingkungan Pada Aspek Pertanian Dan
Kehutanan
Kerusakan
lingkungan dari aspek pertanian dan kehutanan merupakan dua aspek yang menonjol.
Pertumbuhan penduduk, penggunaan teknologi modern dan kurangnya kesadaran
terhadap lingkungan adalah faktor penyebab kerusakan lingkungan. Di bidang
pertanian, semakin besar jumlah penduduk maka kebutuhan akan bahan makanan
semakin meningkat, berakibat pada peningkatan produksi bahan-bahan makanan yang
semakin meningkat dan memadai. Diantaranya dengan melakukan ekstensifikasi dan
intensifikasi pertanian.
Penggunaan
pupuk yang terlalu berlebihan menyebabkan tercemarnya lingkungan perairan dan
sungai. Di samping itu ada beberapa jenis insektisida (golongan organokhlorin)
yang menjadi ancaman terbesar terhadap kualitas air (Wijono, 1998). Dengan
demikian pemakaian atau penggunaan bahan-bahan kimia yang sangat besar telah
menyebabkan menurunnya kualitas lingkungan yang berakibat kepada menurunnya
derajat kesehatan masyarakat.
Menurut
Jones (1993) sektor kehutanan telah mengalami satu delematika yang tajam. Satu
sisi hutan merupakan sumber daya alam yang harus dimanfaatkan untuk
kesejahteraan rakyat (walaupun dalam prakteknya, justru hanya untuk kepentingan
sekelompok orang), sementara disisi lain, pemerintah mempunyai kewajiban untuk
tetap menjaga dan memelihara kelestarian hutan dengan segala isinya. Akan
tetapi dalam keadaan seperti ini ternyata terjadi tarik menarik, dimana
akhirnya kepentingan ekonomi dapat mengalahkan kepentingan ekologi.
Pertumbuhan
penduduk yang cepat juga memberikan andil besar dalam kerusakan hutan.
Terjadinya konversi lahan hutan dijadikan sebagai lahan
perumahan, pertanian dan proyek-proyek industri adalah wujud dari
pertambahan penduduk yang signifikan. Sehingga dapat dikatakan bahwa tekanan
penduduk baik tekanan yang berasal dari dalam maupun yang berasal
dari luar ternayata telah menyebabkan terjadinya konversi lahan. Tekanan dari
luar dapat dilihat dari dampak kepadatan penduduk yang mengakibatkan tekanan
kuat terhadap lahan pertanian. Akibatnya upaya melakukan perambahan hutan
sebagai satu-satunya alternatif pemenuhan lahan pertanian, tanpa memperdulikan
dampak dari kelestariannya.
3.2
Kondisi Pertumbuhan Penduduk, Pertumbuhan Ekonomi, dan Keadaan Lingkungan di
Tiga Negara Berpenduduk Terbesar di Dunia
Seperti yang
telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya, pertumbuhan penduduk memiliki
dampak terhadap lingkungan. Jika dikaitkan dengan aspek ekonomi, pertumbuhan
penduduk juga berdampak pada pertumbuhan ekonomi. Semakin besar jumlah
penduduk, maka kebutuhan akan konsumsi, pengeluaran pemerintah untuk layanan
sosial, dan lain lain juga meningkat sehingga nilai pendapatan domestik bruto
suatu negara juga akan cenderung meningkat. Pertumbuhan ekonomi yang juga
dipengaruhi oleh produksi suatu negara juga mempengaruhi kualitas lingkungan.
Peningkatan produksi mengakibatkan pertumbuhan ekonomi, namun di sisi lain
peningkatan produksi juga cenderung menyebabkan peningkatan polusi atau limbah,
yang berpengaruh pada menurunnya kualitas lingkungan. Kualitas lingkungan
memiliki beberapa indikator, namun dalam pembahasan makalah ini akan digunakan
dua indikator, yakni indikator emisi gas karbon dioksida (CO2 Emission) dan persentase lahan pertanian (% forest area)
Menurut data yang diperoleh dari WorldBank, lima negara
dengan penduduk terbesar di dunia adalah China, India, Amerika Serikat,
Indonesia, dan Brazil. China dan India jumlah penduduknya bahkan mencapai lebih
sari satu milyar jiwa. Dalam pembahasan ini, akan ditunjukkan kondisi tiga
negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia, yakni China, India, dan
Amerika Serikat
3.2.1
Kondisi Pertumbuhan Penduduk, Pertumbuhan Ekonomi, dan Lingkungan di China
Republik
Rakyat China atau yang saat ini di Indonesia disebut Republik Rakyat Tiongkok
menjadi negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia. Besarnya populasi
penduduk di negara tersebut menjadi menarik untuk dikaji lebih dalam. China
yang telah menjadi negara dengan penduduk terbesar di dunia sejak bertahun
tahun lalu mengalami berbagai masalah sebagai dampak dari pertumbuhan penduduk.
Masalah yang muncul seperti penurunan kualitas udara, penurunan lahan hutan dan
lain sebagainya.

Sumber: WorldBank Data 2017, dengan
pengolahan
Grafik
3.1 Pertumbuhan Penduduk, Pertumbuhan Ekonomi, Emisi Karbondioksida dan
Persentase Luas Hutan di China Tahun 2005-2014
Pertumbuhan
penduduk dalam kurun waktu 2005-2014 mengalami penurunan sebagai akibat dari
pemberlakuan kebijakan pembatasan kelahiran anak yakni satu anak setiap
keluarga. Berbeda dengan pertumbuhan penduduk, pertumbuhan ekonomi mengalami
fluktuasi. Pada tahu 2014, setelah terus mengalami penurunan pertumbuhan
penduduk, China mengalami kenaikan pertumbuhan penduduk. Kenaikan pertumbuhan
penduduk tersebut justru diiringi dengan penurunan pertumbuhan ekonomi dari
7.76% menjadi 7.30%.
Pertumbuhan
penduduk yang terus menurun, berbanding terbalik dengan nilai perkapita emisi
karbondioksida yang justru meningkat, karena emisi karbondioksida yang semakin
besar tidak diiringi dengan peningkatan pertumbuhan penduduk. Sehingga, pada
saat pertumbuhan penduduk meningkat, emisi karbondioksida perkapita menurun.
China
mengalami deforestasi secara terus menrun pada tahun 1990an hingga menjelang
2000, sehingga pemerintah melakukan regrowing
forest atau penanaman dan pemulihan lahan hutan kembali. Selain itu,
penurunan pertumbuhan penduduk secara langsung maupun tidak langsung berdampak
pada kebutuhan lahan untuk tempat tinggal, sehingga memudahkan pemerintah
melaksanakan program penignkatan luas lahan.
3.2.2 Kondisi Pertumbuhan Penduduk,
Pertumbuhan Ekonomi, dan Lingkungan di India

Sumber: WorldBank Data 2017, dengan
pengolahan
Grafik 3.2 Pertumbuhan Penduduk, Pertumbuhan
Ekonomi, Emisi Karbondioksida dan Persentase Luas Hutan di India tahun
2004-2015
Berdasarkan
grafik diatas, pertumbuhan penduduk yang terus menurun tidak diiringi dengan
penurunan emisi karbondioksida per kapita. Pertumbuhan ekonomi yang dialami
India bersifat fluktuatif. Dalam kurun waktu 2005-2014, India mengalami
pertumbuhan ekonomi paling rendah pada tahun 2008. Ketika pertumbuhan penduduk
berada pada tingkat 1,3% di tahun 2010-2014, India terus mengalami penurunan
pertumbuhan ekonomi.
Terkait
dengan persentase luas hutan, sama seperti China, India terus berusaha untuk
meningkatkan luas lahan hutannya untuk memperbaiki kondisi lingkungan yang
rusak akibat pertumbuhan penduduk. Dapar
dilihat dari grafik diatas, nilai persentase luas hutan terus meningkat seiring
dengan menurunnya pertumbuhan penduduk.
3.2.3 Kondisi Pertumbuhan Penduduk,
Pertumbuhan Ekonomi, dan Lingkungan di Amerika Serikat

Sumber: WorldBank Data 2017, dengan
pengolahan
Grafik 3.3 Pertumbuhan Penduduk, Pertumbuhan
Ekonomi, Emisi Karbondioksida dan Persentase Luas Hutan di Amerika Serikat
tahun 2005-2014
Pada
grafik diatas, pertumbuhan penduduk di Amerika Serikat terus mengalami
penurunan. Namun, pertumbuhan ekonominya mengalami fluktuasi bahkan mencapai angka
negatif pada tahun 2008 dan 2009. Terkait dengan kondisi lingkungan, penurunan
pertumbuhan penduduk yang terus menurun di negara Amerika Serikat berbanding
lurus dengan emisi karbondioksida per kapita yang juga terus menurun. Berbeda
dengan emisi karbondioksida perkapita dan pertumbuhan penduduk, persentase luas
hutan di Amerika Serikat menngkat. Emisi karbondioksida yang menurun dapat juga
dipengaruhi oleh bertambahnya luas lahan sehingga emisi yang ditanggung
perkapita menjadi berkurang.
BAB IV
PENUTUP
5.1
Kesimpulan
Penduduk
berpengaruh penting dalam menyumbang kerusakan lingkungan, karena dengan
pertambahan penduduk yang tinggi/pesat maka kebutuhan pun akan meningkat baik
kebutuhan jasmani maupun rohani. Dilihat dari perspektif
ekologis pertumbuhan penduduk yang cepat dapat berdampak kepada meningkatnya
kepadatan penduduk, sehingga menyebabkan ketidakseimbangan mutu lingkungan
secara menyeluruh. Pada negara-negara yang memiliki penduduk banyak hal
tersebut tidak selalu mempengaruhi kualitas lingkungan negaranya seperti China,
berdasarkan data yang berasal dari World Bank pertumbuhan penduduk yang terus menurun,
berbanding terbalik dengan nilai perkapita emisi karbondioksida yang justru
meningkat. Di India , pertumbuhan penduduk yang terus menurun tidak diiringi
dengan penurunan emisi karbondioksida per kapita. Sedangkan di Amerika Serikat
penurunan pertumbuhan penduduk yang terus menurun berbanding lurus dengan emisi
karbondioksida per kapita yang juga terus menurun.
DAFTAR PUSTAKA
Arkanudin.
2012. Pertumbuhan Penduduk dan Kerusakan
Lingkungan. Pontianak:Universitas Tanjungpura.
McKenna,
Phil. China Success Regrowing Its Forests
Has Flip Side Deforestation Carbon
Emission https://insideclimatenews.org/news/22032016/china-success-regrowing-its-forests-has-flip-side-deforestation-carbon-emissions
diakses pada 7 November 2017.
Worldbank
Data. www.data.worldbank.org.
Tags:
pengaruh pertumbuhan penduduk terhadap emisi karbondioksida
pengaruh pertumbuhan penduduk terhadap pertumbuhan ekonomi dan lingkungan
pertumbuhan penduduk dan luas hutan
makalah pertumbuhan penduduk dan kerusakan lingkungan
0 komentar:
Posting Komentar